(IslamToday ID) – Kementerian Luar Negeri Turki mengatakan Israel adalah ancaman terbesar bagi perdamaian di Asia Barat. Turki juga mengecam puluhan serangan udara Israel yang menghantam beberapa lokasi militer di Suriah pada hari Rabu (2/4/2025).
“Israel telah menjadi ancaman utama bagi keamanan kawasan kami melalui serangannya terhadap integritas teritorial dan persatuan nasional negara-negara di kawasan tersebut. Sebagai pengacau strategis di kawasan tersebut, Israel menyebabkan kekacauan dan memicu terorisme,” demikian bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri yang dikeluarkan pada tanggal 3 April, dikutip dari The Cradle.
“Oleh karena itu, untuk membangun keamanan di seluruh kawasan, Israel pertama-tama harus meninggalkan kebijakan ekspansionisnya, menarik diri dari wilayah yang didudukinya, dan berhenti merusak upaya untuk membangun stabilitas di Suriah,” tambah pernyataan itu.
Pada Rabu malam, pesawat tempur Israel melancarkan operasi pengeboman besar-besaran di seluruh Suriah yang menewaskan sedikitnya 11 orang. Sasaran utama serangan itu adalah Pusat Penelitian Ilmiah Barzeh di luar Damaskus, bandara militer Hama di Suriah barat, dan pangkalan udara T4 dekat Palmyra.
Serangan mendadak Israel hampir menghancurkan seluruh bandara Hama.
Menurut beberapa laporan di media Israel, serangan itu dimaksudkan untuk mengirim pesan kepada pemerintah Turki.
“Kami tidak akan mengizinkan Anda membangun kehadiran di Suriah,” kata para pejabat kepada Jerusalem Post.
Dalam beberapa minggu terakhir, Ankara telah memulai proses pengambilalihan Pangkalan Udara Tiyas di provinsi Homs, Suriah tengah, yang juga dikenal sebagai pangkalan udara T4, dengan rencana untuk melengkapinya dengan sistem pertahanan kompleks yang mencakup kemampuan jarak pendek, menengah, dan jauh terhadap jet, drone, dan rudal.
Sebelumnya pada hari Kamis, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar menuduh Ankara memainkan peran negatif di Suriah, dengan mengatakan, “Mereka berusaha sekuat tenaga untuk menjadikan Suriah sebagai protektorat Turki. Jelas itu adalah niat mereka.”
Sebagai tanggapan, Ankara mengatakan menteri Israel tidak dapat mengalihkan perhatian dari kampanye pembersihan etnis di Gaza dan peerang total terhadap rakyat Palestina, terorisme pemukim, rencana aneksasi Tepi Barat, dan ambisi ekspansionis di balik serangan terhadap Suriah dan Lebanon dengan menargetkan Turki.
Meskipun ketegangan meningkat, hubungan energi antara Ankara dan Tel Aviv tetap kuat, karena pemerintah Turki terus mengizinkan aliran minyak Azerbaijan melalui Pelabuhan Ceyhan ke Israel. [ran]